Skip to content

Kepoin Calon?

28/03/2018

Abis mbahas tentang nidzom ijtima’i (tata pergaulan dlm Islam), trus obrolan sempat menyinggung soal jomblower yang sekarang mulai intip-intip target via medsos, atau jangan-jangan ta’aruf juga via medsos?

Era medsos memang akhirnya membuka peluang interaksi yang semakin meluas. Apalagi full fitur yang bisa semakin mengekspos diri, dari foto profil, komentar, status, info profil, dsb. Wajar akhirnya keliatan si itu wajahnya ‘unyu-unyu’ ternyata, si anu kok statusnya inspiratif banget sih, kebayang jadi pasangannya entar (heweshewes), ih ini kayaknya penyayang, sering uplot foto sama anak orang, dll.

Yo ndak salah-salah amat, asal gak keluar jalur syariah. Mung sesungguhnya, jangan pernah berharap untuk 1000% percoyo penuh dengan akun seseorang. Sudah begitu banyak bukti foto profil abal-abal, atau kalopun iya pake aplikasi editing gen keliatan agak ramping plus mulus (eh). Status juga belum 100% menunjukkan siapa diri kita sepenuhnya. Yo saya contohnya (daripada nyontohin wong liyo), sekalipun nulis status inspiratif, aslinya yo saya bukan trainer bin motivator, bahkan sesekali perlu disemangati. Sekalipun pernah ngeshare cerita-cerita tentang perhatian ke anak, faktanya yo saya pernah marahin anak barang, hla ning kan gak tak tulis ning setatus. Hla yo opo gunane, nesu kok gawe status, opo ora heng semartphone. Hla le mencet karo esmosi, iya to?

Inget gak dulu para sahabat kalo nyari calon atau nyariin mantu? Ada yang tanya ke sahabatnya, ke bapaknya, ke keluarganya, bahkan mungkin mereka adalah anak-anak kawan sendiri. Ngkenapa? ya mereka itu sumber referensi terpercaya. Lebih meyakinkan dibanding akun pribadi. Bagaimana Salman Al Farisi minta pendapat ke Abu Darda, sahabatnya yang paham tentang kaumnya. Bagaimana Ali memilih Fatimah karena benar-benar melihat sisi keistimewaan Fatimah, disamping tahu bahwa Fatimah adalah putri seorang laki-laki yang mulia, Rasulullah.

Dulu orangtua juga begitu peduli untuk mencarikan jodoh terbaik bagi anaknya, dan si anak yo nurut karena tahu betul kualitas orangtuanya seperti apa. Lihatlah bagaimana Umar menawarkan Hafshah kepada para sahabatnya, demi meyakinkan diri bahwa Hafshah berada dalam tanggungjawab orang yang tepat. Bagaimana pula dengan Ashim, putra seorang Khalifah yang dijodohkan dengan gadis penjual susu. Ashim percaya betul dengan pandangan ayahnya, pandangan yang penuh pertimbangan keimanan semata. Kayaknya kalo gadis penjual susu itu punyak medsos, haqqul yaqin gak bakalan update status, “Alhamdulillah, Ibu tidak jadi mencampur susunya dengan air, terimakasih ya Allah”. Karena dari kisahnya kita bisa membaca, bahwa landasan perbuatannya semata-mata karena Allah, bukankah Ia mengingatkan sang Ibu saat tidak ada siapapun, bahkan tidak tahu ternyata ada seorang Khalifah yang tak sengaja mendengar pembicaraannya. Saya kok melihatnya dari sisi yang lain, bahwa Allah telah menuntun Umar untuk menemukan seorang calon mantu yang tepat. Hla iyo to, Gusti Allah kan Maha Menentukan dan mengatur jodoh, iya to?

Mung memang, kesini-kesini peran orang tua dalam nyariin mantu kok mulai tergerus ya. Semakin lama semakin waton sak senenge anaknya, biasanya sambil nimpali, “sing penting awakmu seneng nduk”. Yo senada dengan anak-anaknya yang lebih demen nyari sendiri, embuh karena gak percaya ke ortu (mungkin wedi dijodohke karo Datuk Maringgih) atau merasa lebih pede aja kalo nyari sendiri. Ortu pun kadang mung waton tahu kerjaannya apa dan gaji berapa. Merasa tenang anaknya dibawa sama yang bisa njamin kebutuhannya. Kalo cewek ya, selama gadis baik-baik aja (gak bermasalah, ala-ala SKCK kepolisian), kalo bisa anak pak yai atau pak lurah. Lebih melihat anake sopo. Jarang, dalam iklim sekuler materialis saat ini, aspek keimanan dan agama menjadi syarat utama, sebelum yang lain-lainnya. Seolah-olah, materi dan fisik adalah sumber bahagia. Padahal rumah tangga tidaklah sekedar bicara urip bareng-bareng, namun melaksanakan kewajiban bareng-bareng, meraih cita-cita bareng-bareng, dan kumpul di surga bareng-bareng. Itu kata para ilmuwan pernikahan, saya cuma nyomot ilmu mereka saja.

Intinya, nyari calon gak cukup kepo-kepo jarak jauh. Gak cukup eruh foto profil sing ayu. Gak cukup eruh status ala Mario teguh. Carilah informasi pada orang-orang yang paling dekat, sehingga dapat gambaran yang tidak terlalu jauh dari ekspektasi. Saya ini sebelum merit juga uda mengalami dunia medsos, aktif jadi blogger malah, tapi gak pernah sekalipun kepikiran kepo-kepo ‘someone’ via medsos. Lebih percaya pada informasi sahabat yang sudah dikenal dengan baik, dan selanjutnya lebih percaya dengan informasi keluarga. Biar tahu, si itu kui sakbenere piye to?

Calon suami dulu juga sama, misalnya nanyak aja ke adek, “Mbakmu kui koyo opo to sakbenere?”, Hyo dijawab opo anane (gak koordinasi karo mbakyune…gkgkgk), “Mbakku kui emosian mas”. Hla yo emosian toh, hawong adhi-adhiku ki uangele ra karuan nek dikandani…hadehhhh. Untung jawabane ndisik, “hyo rapopo, ngko nek nesu trus aku diuncali piring tak tangkape”…haiyah, gkgkgkgk. Setidaknya, begitu tahu calonnya ‘emosian’, sudah persiapan bagaimana ngadepinnya, termasuk persiapan kalo-kalo suatu saat dilempari piring barang…(gak segitunya kali, gkgkgk). Hla iyo, kabeh larang kok piring barang dilempar, tukune ae ngasi direwangi golek detergen sing hadiahe piring kok (xixixixi).

Ini sakbenere posting karena terinspirasi sama buku yang istimewa, Nidzom Ijtima’I fil Islam (Tata Pergaulan dalam Islam) karangan Taqiyyuddin an Nabhbhani. Tak rekomendasikan yang kebelet merit kitab ini dikaji dulu, tentu saja sama yang kompeten menjelaskannya. Biar pernikahan benar-benar bisa sejalan dengan mauNya, menjadi keluarga yang diridloiNya. Hingga sebelum meraih surgaNya, bisa ikut merasakan surga dunia, baity jannaty. aamiin.

One Comment leave one →
  1. 25/07/2018 13:14

    Kepo tanda sayang kan NakOyen. (Fira, Ummi lagi sibuk sundullangit nggak ya, simbah pengin dolan, bagian dari kepo)
    Salam hangat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: