Skip to content

Boleh Ngutang, Asal Bisa Dipercaya!

22/04/2019
by

Itu tagline dagangan saya…. gkgkgk. Maklum, dagang pakaian ditengah kampung yang ekonominya rata-rata pas-pasan. Jadi saya bolehin ambil dulu baru bayar. Eit, dengan rambu-rambu tentunya. Karena berhutangpun harus beradab. Agar tidak terbiasa menganggap enteng hutang. Hutang itu kehormatan. Inilah mengapa Nabi tidak mau menyolatkan mayat yang masih menanggung hutang. Harus harus dicatat, harus dibatasi, harus ada kesepakatan pelunasan & jangan harap boleh mengambil lagi jika yang sebelumnya belum diselesaikan. Apa masih ada yang mangkir? Ada, hanya sekian orang. Tidak banyak diantara puluhan pelanggan. Dan yang mangkir biasanya tak satupun punya tabiat itikad baik untuk menyampaikan alasannya. Padahal jika ngomong baik-baik, nurut saya its no problem, bahkan kalopun bilang nglunasinnya 10 th lagi. Its oke. Yang penting itikad baiknya. But rata-rata gone. Jika sudah ditagih tetep ngeles ae, biasanya cuma ‘tak tandai kamu!’. No more. gkgkgk. Bersiaplah jika¬†trek rekord personalnya sampi kemana-mana, ngeri saja jika akhirnya banyak orang yang tidak lagi mau percaya.

Hutang/Janji/Kejujuran itu sangat erat dengan kepercayaan. Jangan harap kita meraihnya jika abai & menganggapnya angin lalu. Yakinlah, selama seseorang berbuat sesuatu yang benar & baik, tidak sulit untuk mendapatkan kepercayaan publik. Allah jaminannya. Rasulullah contohnya. Maka sebenarnya, ketika orang banyak akhirnya kehilangan kepercayaan kepada  penguasa & perangkatnya, wajib bagi penguasa untuk introspeksi. Bukan malah menakut-nakuti atau justru merasa paling benar sendiri. Kehilangan kepercayaan adalah tanda, ada perilaku/kebijakan yang sudah tidak sesuai. Entah pengkhianatan, ketidakadilan, kedzaliman yang jika itu dilakukan oleh penguasa, tentunya dirasakan oleh lebih banyak orang. Sah saja rakyat tidak percaya, sah saja mereka menuntut transparansi, karena tanggungjawab penguasa untuk meyakinkan rakyat dengan bukti kuat, bahwa tidak ada kecurangan/ketidakadilan. Selama bukti itu tidak cukup meyakinkan, hak banyak orang untuk terus menuntutnya. Jangan dianggap mereka itu biang rusuh, atau menimpakan kesalahan kepada mereka. Justru, penguasa harus bertanggungjawab untuk meredakan kerusuhan & memberi ketenangan. Bukan malah menimpakan kesalahan pada rakyat karena ketidakbecusannya. Sekian

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: