Skip to content

Ijin, Adab yang Terlupakan

13/05/2019

Satu hal yang paling tampak saat anak-anak tetangga main kerumah adalah, tidak diajarkan tentang ijin. Baik ijin menelusuri isi rumah, maupun ijin mengambil mainan. Istilah jawanya, mudah bludas bludus, bahkan masuk ke kamar seenaknya. Ini yang kadang bikin saya rodo garang, hingga harus ngingetin kalo mainan diluar saja, GAK boleh masuk ke kamar!Fira kadangkala yo inget, kadang yo kelalen. Main petak umpet eee ngumpete di kamar. Hadeeeh… Nah, yang bikin Fira sering uring-uringan juga tuh kalo ada yang asal ngambil mainan gak bilang-bilang, opomaneh trus rusak. Dianya sendiri juga kadang gak berani ngingetin, takut dikira pelit. Akhirnya si Ummi mbilang ke Fira, kalo mainan-mainan yang rawan rusak ya disimpen dulu saja. Kalo yakin anaknya yang mainan bakal amanah baru boleh dikeluarin. Si Ummi yo mbilang ke temen-temennya, kalo ambil barang bilang pinjem sama yang punyak.

Ijin itu bukan perkara remeh. Dan syara juga mengatur hal itu dengan tegas. Sayang, kadang banyak yang melewatkan aspek ini. Tahu gak bahkan ngintip rumah orang pun dilarang, hingga pelaku boleh dicungkil matanya. Opomaneh sampe bludas-bludus bahkan masuk ke kamar. Saking pentingnya ijin. Bahkan tuan rumah punyak hak penuh untuk mengjinkan siapapun yang boleh bertamu atau tidak. Kalau tuan rumah tidak memberikan ijin, yo gak oleh nesu. Koyo serial Little Missy jaman TVRI kae hloo, eling gak? Ono sing bertamu ke rumah Tuan Baron, trus pembantunya nanya, siapa? Terus mbilang, “Maaf, Tuan Baron hari ini sedang tidak ingin diganggu, kembalilah lain kali”. “Baiklah, terimakasih” jare tamune. Ngunu. Termasuk ijin ngambil barang, walau cuma mainan. Kalau diijinkan ya dipinjam dengan baik, kalua tidak yo si anak diajarkan legowo dan menghargai hak milik orang. Ojok njur melu nesu dan ngasi predikat pelit. Bisa jadi barang tersebut rawan rusak dan susah cari gantinya, atau si anak umurnya belum tepat untuk dipinjami. Sekalipun tentu saja, kita juga mengajarkan ke anak kita untuk mudah berbagi, disamping menanamkan rasa tanggungjawab.

Menghargai kepemilikan adalah aspek penting yang diajarkan oleh Islam. Agar berhati-hati terhadap sesuatu yang memang bukan miliknya. Tidak asal dan tidak mudah mengklaim, atau bahkan mudah mengambil hak milik orang. Mungkin awalnya cuma mainan, ntar mungkin duit, tanah, air, ladang minyak dan aset orang banyak lainnya, who knows? Opomaneh sampe ngerasa negara duweke dewe, trus diatur sak penake, ngeri kan?

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: