Skip to content

Fira SD (5) : Rapat Wali Murid

26/06/2019

Awal bulan ini menghadiri undangan rapat wali murid di SDN tempat Fira sekolah. Ada beberapa hal yang tercatat selama rapat. Antara lain:

1. SD nya Fira no 3 se kecamatan (dari 36 SDN)
2. Ajaran baru tercatat hanya 10 siswa baru yang mendaftar (entah karena jumlah anak umur segitu berkurang atau tren nyekolahin SDIT di kabupaten semakin meningkat). Tahun sebelumnya (kelasnya Fira) hanya 14 siswa.
3. Gak boleh bawa hp ke sekolah (Abis dibilangin begitu, pas rapat ada ortu yg minjemin hp ke anaknya trus diminta lagi xixixi). Sebisa mungkin dirumah juga dilarang main bawa hp : 1. bikin anak yang lain pengen atau trus maksa ortunya mbeliin 2. gak bisa ngontrol mbuka apaan di hp 3. bikin ketagihan dan ngabisin pulsa trus lupa waktu.
4. Dilarang marahin dan nghukum anak setelah nerima rapot (kalo hasilnya ‘mengecewakan’).
5. Dampingi anak belajar. Jangan anak belajar eh ortunya main hp/nonton tivi.
6. Walopun bukan SDIT, silakan jika anak-anaknya mau nutup aurat (Rata-rata yang nutup aurat hampir 50% kayaknya, temen Fira ceweknya 6, non muslim 1, yang gak kudungan cuma 1).
7. Ketemu banyak ortu siswa (rapatnya disatukan dari kelas 1-5) dan dapat banyak cerita anak-anak yang luar biasa.

Ada yang dari lahir ditinggal ayah ibunya karena pisah, dan tinggal sama neneknya. Neneknya ini yang setiap hari nganterin sekolah, tentu dengan persoalan kerentaannya. Ada yang ayahnya sakit-sakitan, hingga anaknya yang baru kelas 5 sudah jualan makanan untuk sekedar nambah uang saku. Ada yang baru saja ditinggal ibunya entah kemana, dan kurang terurus karena ditinggal ayahnya bekerja dan dibiarkan ngurus dirinya sendiri di rumah. Padahal masih sekecil itu.

Iya, kadang mereka bukannya nggak pinter, bukannya nggak mau ngerjain PR, bukannya abai sama tugas-tugas sekolah. Tapi karena keadaan dan abainya lingkungan, membuat anak-anak kampung seperti mereka kadangkala terpinggirkan. Ada kawan Fira yang selalu nggak ngerjain PR karena gak ada yang ngajarin. Akhirnya pagi-pagi sering baru nyamperin Fira, buat liat PR nya. Pas Ummi tanyak, “Kok gak dari kemarin?”. Anaknya senyum-senyum. Saya paham, bukannya malas, tapi anak sekecil itu masih butuh banyak pengingat dari sekitar, terutama keluarganya.

Kadang ini yang Ummi tunjukkan ke Fira. Ketika dia selalu bangga dengan nilai sempurnanya. Fira bisa karena ada dukungan Abi, Ummi, keuangan, kesehatan, kesempatan, kemudahan. Yang semua Allah yang berikan. Yang nilainya gak sesempurna Fira, bukan karena tidak mampu. Tapi karena dukungan yang tidak penuh dan utuh. Dan itu jadi PR Fira, Abi, Ummi, Bu Guru dan teman-teman yang lain untuk saling mendukung dan membantu.

Ketika persoalan seperti ini belum tuntas, maka tak ada harapan hanya sekedar diselesaikan dengan zonasi…. karena miskin dan bodoh telah menjadi lingkaran yang terus melingkupi generasi negara dunia ketiga, sadar atau tidak!

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: