Skip to content

Fira SD (7) : Generasi Milenial

10/12/2019

Kemarin Fira cerita, abis nonton film di sekolah. Pake laptop gurunya. Film Lion King katanya. Trus filmnya diceritain ke Ummi. Hafal nama-nama tokoh dan jalan ceritanya. Sekalipun pake english version (ada terjemahan tulisannya). Kata Ummi, “Weh sekolah kok nonton laptop toh?”. Jawabnya, “Bu Guru kok yang nontonin, bukan Piya yang minta. Mungkin biar bisa tauk simba yang mana, ayahnya yang mana gituuu”. Ummi tanya lagi, “Emang bisa pada liat gitu, kan laptop layarnya kecil”. Jawabnya lagi, “Bisa kok, kan duduknya pada maju ke depan. Wong cuma 13 orang”. Kata Ummi lagi, “Pasti pada anteng ya kalo diajak nonton?”… Jawabnya lagi sambil nyengir “iya lah Mi… Piya sukak hlo kalo pelajarane nonton terus hehe…”.

Duh anak SD jaman sekarang. Generasi milenial. Generasi melek teknologi. Yang mestinya diimbangi dengan melek adab dan ilmu agama. Jika tidak mau tergelincir pada sikap hidup dan problem solving khas milenial kapitalis sekuler.

Ummi cukup khawatir juga dengan apa yang keliatan di sekitar kawan-kawan Fira. Yang akrab dengan teriakan ‘anjayy…!!!’, istilah ‘prank’ hingga udah berasa kenal deket sama yang namanya lisa dan jeni blekpirink. Yang hampir setiap anak uda pegang gadget ditangan, trus videocall an cuma buat nyapa, “Koe nang endi? Ayo dolan rene”. Sampe si Ummi dibuat geleng-geleng dengan pic profil WA temene Fira, yang fotonya di edit bak bintang drakor Korea. Mata sedikit sipit, bibir merah merona dan kulit putih cetar bercahaya. Wee hlaa dalaah. Sampe kalo main kerumah si Ummi musti sidak dan nanya, “Gak usah bawa hape. Yang bawa hape pulangin dulu”. Konon katanyah, “Buat nyari jawaban PR kok Mi di gugel”. Welehhh… Si Ummi gak kalah sangar, “Gak usah. Nanti Ummi bantuin jawab!”.

Pernah nih si Ummi denger tetangga, “Cah SD jaman saiki, inggrise cas cis cus, unggah-ungguhe ra onok blas. Nek dikongkon ra mangkat-mangkat. Bedo karo jamane awake dewe ndisik”.

Hiya. Bagaimanapun tiap anak punyak jaman masing-masing. Gak bisa disamakan. Tapi soal adab jelas gak akan berubah, karena adab mustinya mendahului ilmu, yang harusnya sudah beres di SD (pendidikn dasar). Hasil kolaborasi antara orangtua, sekolah dan lingkungan. Biar gak muncul orang gede bikin konten yutub isinya prank gak jelas karena cuma demi ngejar liker bin subscriber. Atau muncul orang gede lain yang hobi posting dan ngeshare tanpa ilmu, plus hobi komentar gak jelas dan memicu konflik dimana-mana. Lebih-lebih yang mengkhawatirkan adalah munculnya para pejabat publik/manula yang terkikis adabnya. Mengeluarkan pernyataan tanpa ilmu, provokatif, hingga tuduhan tanpa bukti. Bukankah semua berasal dari akumulasi pemahaman sejak kecil?

Jadi, Ummi rasa, PR pendidikan kita tidak sekedar ‘melek teknologi’, yang lebih mendasar adalah PR mendidik generasi dengan iman, adab, ilmu dan amal. Karena amal saja tidak cukup. Amal tanpa ilmu adalah merusak, amal tanpa adab adalah bencana, dan amal tanpa iman adalah sia-sia. Semoga, kita termasuk yang bersegera menyadarinya, dan menjadi bagian dari orang-orang yang berupaya memperbaikinya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: