Skip to content

Kampong Jengkol

Kampong Jengkol nambah atu penghuninya, si Oyen junior. Tapi nyang eneh kagak bauk jengkol kek penghuni laennyah. Kampong Jengkol ituh gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo (iki betawi opo Jowo toh jane), trus orang bilang tanah kita tanah surge, tongkat kayu dan batu jadi tanaman, bikin betah, itu mangkanye dulu Belanda, Jepang pada demen main di mari, main lompat tali, main petak umpet, main bola, main perang-perangan mpe perang beneran. Kampong Jengkol entu wangi, sewangi melati...

Soal Baju

04/12/2017

Soal jajan dan mainan uda umi posting di blog, sekarang giliran pengen cerita soal baju. Dulu pernah ngalamin sindrom emak2 anyaran yg kbetulan barusan punya anak perempuan, dan kbetulan lagi diberi kemudahan budget. Jadilah demen baper klo ngeliat baju unyu2. Inget banget dulu sering ngintipin gamis2 anak LaBella, dan langsung capcus begitu demen sama modelnya. Soal harga lewat gitu loh (hadeh). Akhirnya Fira kecil punya koleksi gamis2 cantik demenan emaknya (hla iya, mana ngarti balita soal merk dan model…gkgkgk).

Read more…

Advertisements

Morning Happiness dengan Kopi Kapal Api

02/11/2017

Kopi Kapal Api telah menjadi bagian kenangan dalam hidup saya. Dalam kedua kehamilan saya, aroma Kapal Api lah yang sering menemani. Aroma yang mampu meredakan rasa mual, hingga dalam kondisi morning sickness yang parah, saya tetap bisa menikmati hari. Ahai, rupanya aromamu merubah morning sickness ku menjadi morning happiness. Kopi dan hamil seperti dua hal yang kontradiktif. Ya, saya pun memahami bahwa menjaga kesehatan janin dan diri adalah prioritas utama. Sebagai penikmat kopi sejak kecil, rasanya terlalu sulit bagi saya untuk menjauh dari aroma kopi. Terlebih Kapal Api, yang sejak seduhan pertama aromanya seperti sudah merasuk ke alam bawah sadar. Kadangkala mengirim sinyal ketenangan ketika efek mual sudah mulai terasa. Ketika saya hanya diijinkan untuk menyeduh maksimal satu cangkir saja sehari, maka sudah pasti Kapal Api menjadi pilihan utama. Aromanya itu hlo, benar-benar membuat ketagihan dan serasa menyebar ke seluruh ruangan. Ya, bagi saya kopi yang enak itu bisa terasa sejak aromanya. Efek aroma yang menggoda inilah yang biasanya mempengaruhi sensasi alam bawah sadar untuk lebih menikmati setiap seduhannya. Ditambah kenikmatan berikutnya adalah, begitu lidah ini menyeruput, satu seduhan saja, sudah bisa mengalirkan kenikmatan ke seluruh tubuh dan membangkitkan semangat untuk menikmati hari.

Kadangkala saya belum bisa move on dari aromanya, sekalipun satu cangkir porsi telah terlewati. Saat hamil, setiap siang adalah waktunya kopi Kapal Api buat saya, saya terbiasa menaburkan bubuk kopi ke dalam cawan kecil untuk saya nikmati aromanya. Serasa candu mungkin, tapi cukup membuat morning sickness saya tidak menjadi kenangan yang penuh drama. Saya tetap bisa melakukan pekerjaan ringan seperti biasa. Apa tak ada aroma dan rasa lain yang lebih menggoda?

Hamil dan morning sickness adalah sesuatu yang istimewa. Hingga pilihan rasa dan aroma yang mengiringinya pun tentu menjadi pilihan yang istimewa. Entahlah, jika saja kalian mengalami morning sickness, tentu bisa memahami sebuah pilihan yang kadang bagi orang lain itu adalah hal yang aneh. Bagi saya, aroma susu, mi instan, hingga beberapa buah-buahan serasa begitu menjijikkan saat itu. Tapi tidak dengan kopi Kapal Api, ya dan hanya kopi Kapal Api. Pernah suami menggantinya dengan kopi yang lain, yang mungkin menurutnya tak ada bedanya. Sepertinya aroma dan rasa yang sudah telanjur melekat memang benar-benar tak bisa dipaksakan. Hingga rentengan sachet kopi Kapal Api harus tersedia di meja, biar tidak lagi bikin uring-uringan istrinya. Ha ha…

Beberapa penelitian menyebutkan bahwa aroma kopi memang bisa menimbulkan efek tenang. Kafein dalam kandungan kopi ada yang menyebutnya sebagai zat anti-stres karena berperan dalam pelepasan dopamin dan serotonin yang memicu suasana hati yang baik, dan tidak berbahaya asal menggunakannya sesuai aturan. Satu cangkir atau bahkan aroma kopi saja sudah bisa menenangkan syaraf. Inilah yang membuat saya tidak mau ambil resiko dengan menyedu lebih dari secangkir kopi selama hamil, karena kafein berlebihan tidak disarankan untuk ibu hamil. Akhirnya ketika hasrat ingin meng’kopi’ begitu kuat, saya cukup menciumi aroma nya, dan Kapal Api memang memiliki aroma khas yang begitu terasa.

Setelah anak-anak lahir, cerita tentang kopi Kapal Api tetap tak luput dari keseharian kami. Kopi Kapal Api bagi kami tetap menjadi teman istimewa saat mengawali hari, saat kami memperbincangkan persoalan umat, saat kami mendengarkan berita, hingga saat kami harus melewati malam dengan setumpuk pekerjaan. Mungkin satu lagi yang perlu kalian tahu, oleh-oleh istimewa bagi keluarga kami bukanlah barang mewah, cukuplah kau bawa rentengan kopi Kapal Api, dan kami pun akan sangat menyukainya..ha ha..

Pun dengan mamak saya, simbah putrinya anak-anak. Lahir dari buyut penjual kopi bubuk racikan sendiri, tentu saja kopi juga menjadi keseharian mamak. Setelah era kejayaan kopi produksi keluarga berakhir, ternyata Kapal Api pun sekarang menjadi pilihan mamak berikutnya. Mamak juga akan sangat gembira, ketika kami mengunjunginya, rentengan sachet Kapal Api pun ikut menyertainya, bersama sekian sachet deterjent kesukaan. Tentu saja, karena selain gemar menyedu kopi yang bisa sekian cangkir sehari, mamak juga masih sangat gemar mencuci baju-baju kami. Mamak pun akan sangat gembira dengan kedatangan cucu-cucunya, dan akan sangat senang jika kopi Kapal Api buatannya kami habiskan bersama-sama. Si Isam, bayi kami yang belum genap satu tahun pun pernah menjadi ‘korban’ untuk ikut merasakan kopi Kapal Api seduhan mamak. Begitu saya meihatnya spontan saya bilang ke Mamak, “Mak, kok Isam di dulang kopi to?”, Mamak hanya senyum sambil berkata, “Pengen kok”. Hla iya, bayi usia segitu kan apa saja pengen, apalagi kopi seenak ini. Alhamdulillah, untunglah ketahuan saat baru sekian sendok. Ha..ha…

Mamak pun terbiasa jika banyak stok kopi Kapal Api dirumah, semua akan dibuatkan ketika kami kumpul bersama. Karena kakak dan adik-adik saya juga penikmat kopi Kapal Api, dan celakanya, saya terbiasa untuk menghabiskan cangkir mereka saat jatah saya sudah habis, lalu teriakan “Kopiku endiiii….” pun terdengar, dan tahulah siapa pelakunya…ha ha…

Kira-kira, siapa ya yang awalnya menemukan kopi. Saya coba telusuri sejarah kopi di masa lalu, dan wow, ternyata kopi juga menjadi bagian sejarah peradaban Islam. Sumber lostislamichistory.com yang saya kutip dari situs berita republika.co.id menyatakan, menurut catatan sejarah, di tahun 1400-an kopi menjadi minuman yang sangat populer di kalangan umat Islam di Yaman, di Semenanjung Arab bagian selatan. Konon, ada seorang gembala yang melihat bahwa kambingnya menjadi sangat energik dan gelisah saat mereka memakan biji dari buah tertentu. Akhirnya didorong rasa penasaran, sang penggembala pun mencobanya sendiri hingga menemukan ternyata biji tersebut benar-benar bisa memberi energi. Seiring berjalannya waktu, terbentuklah tradisi memanggang biji buah tersebut untuk menciptakan minuman asam namun kuat. Seiring berkembangnya penemuan ini, maka lahirlah minuman kopi. Pada masa Kekaisaran Ottoman, sebuah kekhilafahan Islam, pada abad ke-15, kedai kopi mulai bermunculan di semua kota besar seperti Kairo, Istanbul, Damaskus maupun Baghdad. Karena umat Islam terikat dengan hukum halal haram, maka akhirnya ada seorang Syekh yang mempelajari kehalalan kopi.

Pada saat itu, beberapa ilmuwan berpendapat bahwa kedai kopi itu serupa dengan kedai anggur. Semua upaya untuk melarang kopi pun gagal, meski hukuman mati digunakan pada masa pemerintahan Murad IV (1623-40). Para ulama akhirnya mencapai kesepakatan berdasarkan kajian hukum syara’ bahwa kopi pada dasarnya diperbolehkan. Kopi mulai menyebar di wilayah Eropa melalui kota pedagang besar Venesia. Meskipun pada awalnya dikecam sebagai “minuman Muslim” oleh otoritas Katolik, hingga detik ini kopi telah menjadi bagian dari budaya Eropa. Wow, begitu ya ceritanya. Ya, sekalipun membuat sedikit efek menenangkan dan ketagihan, tapi kopi tetap halal ya. Asal tetap tidak memalingkan dari aktivitas utama, bagi seorang muslim ya tidak melalaikan dari aktivitas wajibnya. Boleh lah menikmati kopi, tapi ya sewajarnya, karena semua yang berlebihan tetaplah tidak baik. Apalagi jika kopinya jelas lebih enak seperti kopi Kapal Api, cukup lah satu atau dua cangkir sehari.

Ya, inilah #KapalApiPunyaCerita yang jelas lebih enak versi saya, dari morning happiness hingga family happiness… bagaimana versi kamu ?

Setaon Adeknya Fira

30/10/2017

Biar sama kayak embaknya, adeknya Fira juga Ummi record ya perkembangan setahun ini (ndak meri..hehehe). Dan biar bahasannya sama’an, ya Ummi bikin gak jauh beda sama punyak eMbaknya…cekidot ya Mak…xixixi

Read more…

Panggilan (Obrolan Angkot)

11/10/2017

Ini obrolan Ummi sama Fira waktu perjalanan pulang naik angkot. Fira konon paling seneng kalo Ummi gak ngajak Isam, soale bisa fokus ngobrol sama mbak Fira, dan bisa duduk di depan berdua, soale nek nggendong Isam rempong banget kalo di depan…heuheu…

Read more…

Pengen Punyak Mobil

27/09/2017

Ini rupanya jadi resolusi Fira berikutnya, setelah sebelumnya pengen punyak adek (wes kabul ceritane, sekalipun rung iso ngalah sama adiknya). Keinginan ini terpendam udah lama, sejak masih di daycare (sekitar 2.5 th nan waktu itu). Gara-gara temen2nya semua dijemput pake mobil. Dan demen banget jalan kaki nglewatin FK UGM, karena bisa menikmati show room mobil beragam warna. Fira jadi bisa belajar warna, dan berimajinasi, “nanti Piya sama Abi depan, Ummi belakang…ya Mi”…si Ummi manggut-manggut ajah.

Read more…

Pak Gurunya Ibu-ibu

18/09/2017
by

Seluruh guru di sekolah TK nya Fira perempuan semua, cuma satu yang laki-laki, yaitu kepala sekolahnya. Pak Puji namanya. Pak Puji ini gaya ngomongnya layaknya ustadz kampung, kalem dan agak ngebanyol, jadi gak berasa kalo sedang ‘negur’. Ini setipe dengan Ibu-ibu anak-anak didiknya, yang sering ‘agak bandel’ kalo diingetin orang lain. Maka seringnya, Pak Puji memanfaatkan momen pertemuan dengan orang tua wali murid untuk juga memberi tausiyah kepada para ibu-ibu nya. Maklum, TK nya Fira memang bukan sekelas TK IT kota, tapi cuma TK Islami kampung. Orang tuanya juga menggambarkan kehidupan khas kampung, yang masih butuh sentuhan tausiyah khas Ustad kampung.

Read more…

Celoteh Fira (6)

12/09/2017

Ini pernah di post di FB sebetulnya, cuman karena belum di post dimari, ya akhirnya Ummi pindahin kesini….eman kalo ilang, biar Mbak Fira bisa nostalgila celotehan masa lalu…xixixixi…cekidot Mak…

Read more…